Jiwa Anak Kecil Yang Terjebak Dalam Tubuh Orang Dewasa

 

"Hei, kupikir aku sudah siap."

"Siap apa?"

"Menjadi Dewasa."

"Artinya kamu belum siap?"

Aku menghela napas. Pertanyaan yang kalau dipikir-pikir tidak sepenuhnya "belum siap".


Aku sudah siap, aku sudah bersiap sedari aku kecil. Aku akan jadi orang dewasa yang baik kepada anak kecil. Aku akan banyak mengeksplor dunia ini 'karena itu fungsi utama punya badan orang dewasa'. Aku akan sekolah lanjut, kerja, punya keluarga. Tapi setelah dilalui, aku menyadari ada yang salah.


Aku masih merasa ingin bermain. Hari-hari yang berkutat pada kertas dan layar biru terlalu kerap membuat napasku berhenti. Menghadapi orang-orang dewasa lainnya yang sama-sama penat dengan dunia. Aku sempat bertanya, ini hidup macam apa? Kenapa orang-orang tetap jalan padahal sudah sekarat? Kenapa tak jarang mereka lupa dengan dirinya sendiri. Di mana serunya? 


Makanya aku merasa ada yang salah, karena di ujung hari aku hanya ingin bermain. Aku ingin beli boneka dan main ke pasar malam. Aku ingin makan es krim 24/7. Ingin dibaik-baiki dan dipersilakan rehat waktu sakit. Ingin setiap bangun tidak dituntut sesuatu. 


Aku merasa ada yang salah, karena setiap aku tertekan sedikit, aku akan mudah menangis. Aku seperti dibabi-buta dengan hal yang tidak sepatutnya menjadi urusanku—padahal ketika dewasa itu memang bagianku. Aku mudah lelah dan ingin istirahat yang lama, aku melihat dunia terlalu terburu-buru padahal apa yang begitu urgent sekali? Aku mudah tumbang kalau dapat komentar buruk. Ya, aku adalah anak kecil yang ngambek kalau apa yang kusuka tidak disetujui. Aku haus perhatian, karena aku ingin semua orang bermain bersamaku. 


Pernah aku berpikir bagaimana bila seluruh barang di dunia ini gratis. Kereta dan transportasi umum terus berlakon untuk mengantar berwisata. Orang-orang berhenti menjadi sok dewasa. Pada akhirnya, aku ingin menjadi diriku sendiri.


Dan waktu coba kukenal "siapa diri sendiri ini", kutemukan bahwa sejatinya ia hanya anak kecil. Anak kecil yang waktu barusan kamu tanya "Apakah belum siap menjadi dewasa": dia menangis.


Anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cintai Aku Seribu Kali Lagi

Kontradiksi Tentangku

Rupa Mimpi & Perjalanannya Menuju Langit