Kompor Tanpa Gas (Runtut Waktu)
sc pict: pinterest Kita terlalu memburu hidup. Seakan-akan hidup ialah sistem yang bisa kita tuntut. Kita ingin setiap hasil datang dalam satu detik setelah dilakukan. Atau balik lagi, "kita maunya sekarang", padahal sejujurnya kamu sendiri belum dalam kategori pantas atau siap untuk dapat itu. Egomu saja yang membumbung ke langit. Maka, seperti itulah kompor tanpa gas. Kita tidak bisa masak kalau gasnya tidak ada, nyambung, dan berfungsi. Tapi waktu kamu lihat kompor, kamu tahu "aku akan bisa masak, karena sudah ada kompornya." tapi kalimat itu ada lanjutannya: "namun tidak harus sekarang, hanya saja pasti akan terjadi". Memaksa, kita terlalu memburu waktu. Kita terlalu tergesa untuk setiap hasil berupa wujud, terlupa bahwa "oh, gasnya belum ada. jadi di prosesnya, aku masih harus cari gas dulu." (Atau dalam segi kehidupan, itu berbunyi "aku masih harus belajar", atau "oke, sekarang aku perlu ngikut alurnya dulu"). Tapi bukan...