Kontradiksi Tentangku
Kadang aku tidak tahu apa yang terjadi, dan aku benci pertanyaan. Selama hidup, aku menjawab semua pertanyaanku sendiri, walau jawaban itu salah. Menjawab pertanyaan orang lain jadi membuatku takut salah. Padahal aku tidak masalah, tapi bila untuk orang lain, membuatku memojokkan diriku sendiri. Aku tidak suka.
Aku masih sukar berhubungan dengan orang lain, ini rahasia. Aku seperti manusia normal, dan aku memahami semua orang. Beberapa orang menyebutku dewasa, tapi aku tidak. Aku anak kecil, aku sering memberontak dengan reaksi kecil, lebih banyak diam, dan tidak ingin diganggu. Aku sulit memahami manusia kenyataannya. 10 tahunku hidup kugunakan untuk meracik kemungkinan soal karakter seseorang, kamu tahu itu melelahkan, seandainya kamu bisa lihat.
Aku mual dengan tekanan, aku tidak bisa disuruh, diminta tanggung jawab, walau akhirnya tetap kukerjakan. Rasanya seperti menelan kembali isi perut yang mau keluar. Aku masih berhipotesis soal ini, antara aku tidak terbiasa dengan hal-hal yang (belum) aku bisa sehingga aku takut dibabi-buta bila salah, atau karena aku punya minat ke hal-hal yang kupilih, bukan dipilihkan.
Bingung kubaca tiga paragraf ini. Tentu aku mempelajari puluhan (sungguh 20 lebih) buku supaya setidaknya aku belajar, tapi aku sulit menerapkannya, seperti membaca ribuan kata tapi yang keluar kosong. Aku sangat rapuh, aku rapuh, sungguh sangat rapuh, sehingga membaca setidaknya membantuku untuk berhati-hati soal ini.
Kemarin seseorang bilang bahwa aku terlalu overthinking. Aku tidak tahu kalau tidak diberitahu. Namun sungguh, banyak bagian hatiku yang terluka, sedari kemarin, dan aku tidak punya orang untuk bercerita. Semua yang kualami adalah "akumulasi", dibumbui pengalamanku yang penuh pengabaian dan justifikasi, sehingga bagaimana aku tidak berpikir berlebihan?
Di beberapa hariku aku sangat ketakutan, aku merasa benar-benar sendirian, dan ini terjadi justru ketika aku sedang bersama banyak orang. Bahkan aku tidak merasa sepi walau sendirian. Namun aku tetap berdiri kokoh, meski seperti batu pecah yang diberikan perekat—tidak berguna. Aku menghadapi hari demi hari, aku tetap membuka hatiku walau artinya aku lebih mudah dihabisi.
Itu semua karena aku berani,
berani untuk merayakan kesedihan setiap malamku,
atau menghargai diriku sendiri—yang juga ingin tumbuh walau banyak yang mengikatku, termasuk diriku sendiri.
Itu karena aku berani.

Komentar
Posting Komentar