Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

OCD - Kebiasaan Impulsif Berulang

Gambar
  Cacatku tak berupa. Dia ada di balik perilaku yang tak bisa dikoyak logika. Rasa cemas menghantuiku sambil tertawa. Semua harus sempurna, seolah mayangda ialah sesuatu yang bisa kukendalikan. Lakukan, lakukan, lakukan! Kebiasaan berulang membuat sekujur tubuhku tandas. Otakku dipenuhi skenario badut yang marah jika aku berhenti melakukan. Menjadi baik-baik saja ialah obsesi. Tali bayang masa depan yang berputar di kepala mendorongku masuk ke jurang ketagihan. Tidak, aku tidak bahagia. Seluruh hidupku suram, jenaka, dan sosok asing pikiranku akan terus berkelana sampai badanku menggila. Tolong aku. Aku tergoda akan bermacam obsesi impulsif. Trauma mengitari pusat sukmaku yang kesakitan. Aku benci merasa demikian. Aku habis tak bersisa, seolah cemasku ada di ujung dunia. Ia tak terbatas. Katakanlah aku si bodoh sakit jiwa. Tapi bisakah dengarkan aku sebentar? Aku butuh obat yang tidak nyata. Beritahu aku cemasku ialah halusinasi fiktif yang mampir dari negeri khayalan. Beritahu aku...

Anak Lelaki dan Lautannya

Gambar
Dulu kecil, ada anak lelaki yang suka berimajinasi kala sedang bermain air. Anak itu pikir samudra ialah rumah terindah. Gelombang kencang ombak ialah permainan di mana dia berada di atas kapal sebagai nahkoda—tidak, lebih dari itu, dia adalah bajak laut, penguasa lautan yang mencuci mata dengan harta karun temuan. Tanpa peta, tanpa kompas, dia menggunakan mata angin, mentari, dan arah bintang. Ketakutan ialah bukti keberanian yang teredam. Pekatnya malam ialah suasana petualangan paling menantang. Beranjak dewasa, anak lelaki itu melihatnya dengan pandangan jauh lebih luas. Dia masih pemilik lautan. Dia masih punya tujuan berlayar. Dia masih mengandalkan semesta untuk memberinya arah. Bedanya, samudra dan lapangan air biru itu digambarkannya sebagai kehidupan. Dia harus mengarungi lautan kehidupan yang kerap mengajaknya bertengkar. Masalah datang tanpa aba-aba hingga kapal yang dikendarainya berkali-kali karam. Luka lebam dan pusing karena terbawa arus kehidupan ialah makanan sehari-h...

Kedamaian Tanpa Nama

Gambar
  Hari ini udara jauh lebih dingin padahal mentari sedang terik. Embusan angin menerpa kulit sambil menyapa selamat pagi.  Seperti biasa, para pujangga sedang sibuk bicara dengan puisi di putaran kepala. Para akuntan menari bersama mesin penghitung. Pedagang sudah menancapkan bendera posisi abadi yang tak bisa direnggut pedagang lain. Hingga terakhir, pekerja kantoran yang tak habis dikejar waktu. Semua orang sudah siap membalik kertas hari baru. Kesibukan baru. Napas baru. Tak seperti hari sebelumnya, sekumpulan bunga mawar jauh lebih mekar dalam dadaku. Mataku jauh lebih sayu menyipit karena udara melakonkan tubuhnya dengan megah hingga aku terlamun. Pagi ini, perasaanku sebiru langit yang mewarnai angkasa dengan awan putih. Biru itu, melukiskan ketenanganku yang tercoret pada kanvas kelabu. Ia sungguh bebas, mengekpresikan diri dalam segumpal cat air basah yang terkikik riang.  Bedanya, kedamaian hari ini terasa tidak memiliki purna. Jauh lebih menghanyutkan ketimbang ...