Rupa Mimpi & Perjalanannya Menuju Langit
sc pict: pinterest
Katanya, "Bermimpilah setinggi langit."
"Memangnya bagaimana bisa sampai ke langit?"
Sekali bermimpi, ia beranak-pinak sampai menginisiasi selanjutnya, berikutnya, setelahnya. Perasaan harap itu, meledak ruah seperti kembang api. Seperti ruh yang serasa menemukan jati diri, keyakinan alam bawah sadar bangkit, metafora hiperbolis yang menganggungkan duniawi. Terasa ajaib.
Kalau realita berkata bahwa mimpi itu penyakit, kataku mimpi itu kisah magis pengantar pencapaian tidak terbatas. Mereka yang sukses dari gagal, artinya mimpi itu membakar mereka hingga bangkit sekadar kata untuk terus menghentak takdir. Mimpi itu membunuh, karena jatuh di jurang ekspektasi tidak lain menelak mundur. Namun mimpi menghidupkan, alasan manusia tetap berdiri meski tak lagi ada sepatah harap untuk diteguk.
Dari situlah, mimpi dapat menerbangkan kita ke langit — angkasa khayalan jauh di masa depan, jauh di masa lalu. Melupakan sejenak masa sekarang, untuk kita tahu mau menjadi apa. Mimpi ialah tipu daya — tetapi juga jalan pintas.
Bermimpilah,
berpetualanglah.
Pulanglah dengan keranjang pembuktian yang tak bisa dibeli sosok realitamu sekarang.
Dengan begitulah bermimpi setinggi langit menjadi makna sungguh kau antarkan mimpi itu sampai tujuan ketidakmungkinan, di langit—rumah sejatinya.

Komentar
Posting Komentar