Kompor Tanpa Gas (Runtut Waktu)
Kita terlalu memburu hidup. Seakan-akan hidup ialah sistem yang bisa kita tuntut. Kita ingin setiap hasil datang dalam satu detik setelah dilakukan. Atau balik lagi, "kita maunya sekarang", padahal sejujurnya kamu sendiri belum dalam kategori pantas atau siap untuk dapat itu. Egomu saja yang membumbung ke langit.
Maka, seperti itulah kompor tanpa gas. Kita tidak bisa masak kalau gasnya tidak ada, nyambung, dan berfungsi. Tapi waktu kamu lihat kompor, kamu tahu "aku akan bisa masak, karena sudah ada kompornya." tapi kalimat itu ada lanjutannya: "namun tidak harus sekarang, hanya saja pasti akan terjadi". Memaksa, kita terlalu memburu waktu. Kita terlalu tergesa untuk setiap hasil berupa wujud, terlupa bahwa "oh, gasnya belum ada. jadi di prosesnya, aku masih harus cari gas dulu." (Atau dalam segi kehidupan, itu berbunyi "aku masih harus belajar", atau "oke, sekarang aku perlu ngikut alurnya dulu").
Tapi bukan tentang menyerah: "ah, tidak ada gasnya. tidak usah masak". Di sini bukan kaidah saat-nya untuk mengikhlaskan, tapi tentang bersabar.
Hidup itu dinamis. Orang paling kaku stagnan ialah orang paling dirugikan di dunia yang penuh kejomplangan, porak-poranda, nggak jelas, dan tidak tahu nanti bisa jadi aneh berubahnya macam-macam. Maka, kita harus adaptasi juga, bukan lurus-lurus saja tidak mau belok. Biasa saja. Tidak ada yang sebegitu berartinya dengan hadirnya ketidakberaturan hidup. Santai saja karena kedinamisan ialah tentang mengikuti alur, yang terpenting 'memenuhi standar awal', 'menepati syarat minimum langkah selanjutnya'. Apapun bisa men-(jadi). Sama halnya menghadapi kompor tanpa gas, jangan kaku, karena setiap momen ada 'masa'-nya, setiap kejadian selalu tepat waktu. Kompor itu akan memantikkan apinya, tapi kita harus jalan dulu, kita harus menyesuaikan harus apa, bukan melepas karena tidak ada apa-apa.
Kompor tanpa gas, mengajarkanmu untuk menghargai usaha dan waktu.

Komentar
Posting Komentar