Kedamaian Tanpa Nama

 

Hari ini udara jauh lebih dingin padahal mentari sedang terik. Embusan angin menerpa kulit sambil menyapa selamat pagi. 

Seperti biasa, para pujangga sedang sibuk bicara dengan puisi di putaran kepala. Para akuntan menari bersama mesin penghitung. Pedagang sudah menancapkan bendera posisi abadi yang tak bisa direnggut pedagang lain. Hingga terakhir, pekerja kantoran yang tak habis dikejar waktu. Semua orang sudah siap membalik kertas hari baru. Kesibukan baru. Napas baru.

Tak seperti hari sebelumnya, sekumpulan bunga mawar jauh lebih mekar dalam dadaku. Mataku jauh lebih sayu menyipit karena udara melakonkan tubuhnya dengan megah hingga aku terlamun. Pagi ini, perasaanku sebiru langit yang mewarnai angkasa dengan awan putih. Biru itu, melukiskan ketenanganku yang tercoret pada kanvas kelabu. Ia sungguh bebas, mengekpresikan diri dalam segumpal cat air basah yang terkikik riang. 

Bedanya, kedamaian hari ini terasa tidak memiliki purna. Jauh lebih menghanyutkan ketimbang bunga tidur yang mengajakku bermain semalam. 

Kurasa... pagi yang indah?


- Pati, 27 Agustus. Ditulis sambil menerka misteri datangnya kedamaian tanpa nama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cintai Aku Seribu Kali Lagi

Kontradiksi Tentangku

Rupa Mimpi & Perjalanannya Menuju Langit