Anak Lelaki dan Lautannya


Dulu kecil, ada anak lelaki yang suka berimajinasi kala sedang bermain air. Anak itu pikir samudra ialah rumah terindah. Gelombang kencang ombak ialah permainan di mana dia berada di atas kapal sebagai nahkoda—tidak, lebih dari itu, dia adalah bajak laut, penguasa lautan yang mencuci mata dengan harta karun temuan. Tanpa peta, tanpa kompas, dia menggunakan mata angin, mentari, dan arah bintang. Ketakutan ialah bukti keberanian yang teredam. Pekatnya malam ialah suasana petualangan paling menantang.

Beranjak dewasa, anak lelaki itu melihatnya dengan pandangan jauh lebih luas. Dia masih pemilik lautan. Dia masih punya tujuan berlayar. Dia masih mengandalkan semesta untuk memberinya arah. Bedanya, samudra dan lapangan air biru itu digambarkannya sebagai kehidupan. Dia harus mengarungi lautan kehidupan yang kerap mengajaknya bertengkar. Masalah datang tanpa aba-aba hingga kapal yang dikendarainya berkali-kali karam. Luka lebam dan pusing karena terbawa arus kehidupan ialah makanan sehari-hari yang kerap membuatnya ingin menangis dan muntah. 

Namun, dia masih anak lelaki kecil beberapa tahun lalu. Dia masih tidak kenal kepayahan dan percaya bahwa lautan ialah miliknya. Arus kelam kehidupan ialah bagian kuasanya. Maka, sekali lagi dia tegakkan lututnya yang dipenuhi darah. Dia kibarkan lagi bendera kapal yang tiangnya sudah setengah patah. Dia tidak menyerah. Harta karun bajak lautnya kini tidaklah emas atau permata, melainkan bahagia dan rasa puas. Dia harus mewujudkannya.

Maka kelak, dia menjadi pengendali samudra paling kuat. Dia manusia psike baja yang akan ambruk lalu bangkit lagi. Dia menjadi pengendali berbakat atas hidupnya sendiri, karena sekali lagi, laut kehidupan harusnya ialah permainan baginya. Bukan tempat membuat akhir tragis paling menyedihkan.

Jadi, apa itu kekalahan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cintai Aku Seribu Kali Lagi

Kontradiksi Tentangku

Rupa Mimpi & Perjalanannya Menuju Langit