Potret Kenangan
Kelak kau akan menjalani hidupmu sendiri.
Potret kenangan kemarin, pernah menjadi bagian manis, memberikan warna baru di hidupku. Bagian monokrom berisi perbincangan dan adu tawa yang tersimpan dalam buku memori kepala. Malam ini aku memutar kembali potret film masa lalu itu. Masih tersisa. Masih tersimpan jejak pertemuan penuh ragu hingga akhir paling pilu. Satu yang perlu kautahu, aku tidak pernah menyangka akan memiliki cerita tersebut. Membangun dunia bersama dengan tangan-tangan kecil yang menopang titik lemahku.
Boleh kutanya? Mengapa kakimu masih berpijak di sekitarku ketika sudah kupinta kau pergi dan tanggal? Jugakah kau perlu tahu bahwa selayaknya rasa 'butuh', orang-orang selalu meninggalkanku sendirian. Kulambaikan sapa perpisahan berbalut senyum padahal sebetulnya aku sakit. Mengapa masih menetap ketika tugasmu pula untuk menepi? Mengapa untuk pertama kalinya... ada orang yang membuatku sesenang ini? Membuktikan lembaran baru berlentera yang aku kira aku tak akan punya.
Maka ketika semua cerita kini usai, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Sebaik-baiknya rasa syukur, aku ingin kau menemukan jalan benderang melanjutkan perjalanan. Aku ingin kau mendapatkan lebih banyak hadiah dari semesta karena kau telah menghidupkan sisi diriku yang mati dan layu, membunyikan tombol darurat kala aku tidak sadar hatiku sudah padam mati untuk peduli pada siapapun. Maka, mari kita lanjutkan hidup kita sendiri. Temui aku pada titik bersinar kita masing-masing. Aku tidak berjanji untuk selalu baik-baik saja, tapi tetaplah tenang karena kenangan bersamamu akan selalu membuatku kuat.
Sampai jumpa.

Komentar
Posting Komentar